Mahasiswa STIKES-BMG saat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS), Senin (27/05)

KAMPUS BMG – Ujian Akhir Semester (UAS) mulai digelar STIKES Bina Mandiri Gorontalo pada Senin (27/05) kemarin. Bagi Ketua STIKES-BMG, Dr. Titin Dunggio, M.Si, M.Kes, UAS tidak hanya menjadi instrument untuk menakar kualitas dan capaian hasil belajar mahasiswa selama satu semester, akan tetapi UAS juga menjadi momentum untuk menanamkan nilai-nilai dan karakter dalam diri mahasiswa.
“Intervensi lembaga pendidikan secara sistemik, juga bisa membangun kesadaran moral dari dalam diri mahasiswa. Tentang bagaimana membangun kesadaran moral mahasiswa ini, juga bisa dimanifestasikan melalui pelaksanaan UAS yang jujur. Meski dalam prosedur pelaksanaan UAS tetap diawasi oleh pengawas ujian, tetapi nilai kejujuran itu bisa ditelisik dari sikap dan perilaku mahasiswa saat mengikuti ujian. Tidak ada lagi mahasiswa yang menyontek,” kata Dr. Titin.
Dalam konteks membangun dan menamamkan nilai-nilai kejujuran mahasiswa, kata Dr. Titin, harus terjadi secara sadar. “Sikap mahasiswa yang memilih untuk ‘tidak menyontek’ saat ujian, harus terjadi bukan karena ada pengawas ujian. Tetapi paling tidak dorongan untuk ‘tidak menyontek’ itu muncul dari dalam diri mahasiswa, dari kasadaran mahasiswa. Jika ini yang terjadi, maka kita tidak perlu meragukan lagi tentang bagaimana karakter mahasiswa kita,” kata Dr. Titin.
Membangun budaya jujur ini, kata Dr. Titin, sangatlah penting. Karena ini juga akan relevan dengan hasil ujian. Menurut Dr. Titin, jika pelaksanaan UAS mampu membangun budaya jujur, maka hasil ujiannya benar-benar murni dan menggambarkan kualitas yang sesungguhnya.
“Sikap untuk tidak menyontek saat ujian, juga menggambarkan bahwa mahasiswa juga sudah menyiapkan dirinya sebelum ujian dan sudah belajar tentang materi ujian. Ini tentu menjadi indikator capaian hasil ujian yang baik. Dan jika hasil ujiannya baik, maka ini menjadi pertanda bahwa kinerja dosen akan baik selama proses perkuliahan,” kata Dr. Titin.(hms/bmg)